Syalom!

Blog ini berupaya menyajikan jurnal studi Filsafat dan Teologi
para mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana - Malang.
Tulisan-tulisan yang dimuat di sini adalah pendapat penulis sendiri, bukan cerminan pendapat pengelola blog. Tulisan-tulisan ini adalah hasil perenungan dan kerja keras para mahasiswa, dan tidak mengandaikan isinya adalah ajaran resmi Gereja Katolik.
Showing posts with label inkulturasi. Show all posts
Showing posts with label inkulturasi. Show all posts

Friday, May 14, 2010

Menghantar Orang ke Peristirahatan Terakhir

Pengantar

Memperlakukan seseorang dengan hormat dan baik, terutama kepada orang tua dan nenek moyang yang telah berjasa, merupakan suatu keutamaan manusia yang berlaku universal. Manusia, dari bangsa mana pun, selalu mempunyai ajaran menghormati orang tua. Melalui Kitab Amsal, Allah memberi nasihat kepada bangsa Israel untuk memperhatikan ajaran mereka dan menghormati orang tua (bdk. Ams 1:8; 6:20; 23:22.25). Penghormatan kepada orang tua merupakan suatu kewajaran bagi manusia dari segala jaman. Dalam banyak kebudayaan juga ditemukan penghormatan kepada orang tua bukan hanya dijalankan sewaktu orang tua masih hidup di dunia, melainkan juga untuk orang tua yang sudah meninggal.

Bagi masyarakat Tionghua, penghormatan kepada orang tua, baik kepada yang masih hidup maupun kepada yang sudah meninggal sudah berusia seumur kebudayaannya itu sendiri. Ajaran-ajaran tertulis tentang penghormatan ini ditemukan dalam banyak kitab klasik, terutama dalam ajaran-ajaran Konfusius. Bagi Konfusius, inti penghormatan ini diungkapkan dengan sikap bakti kepada orang tua.


Masuk ke Dunia Lain

Relasi antar manusia dalam tradisi Tionghua tidak akan hilang meskipun orang kematian telah memisahkan orang dari kehidupan di dunia ini. Karena itu tidak heran kalau dalam setiap keluarga penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama. Orang yang tidak lagi menghormati leluhur yang telah meninggal dianggap sebagai seorang anak durhaka, sebab mereka melupakan asal usul dan jasa dari para pendahulunya, bahkan melupakan akar kehidupannya sendiri.

Penghormatan kepada para leluhur bukanlah suatu sikap menyembah. Hal inilah yang kerap kali disalahmengerti oleh sebagian besar orang, bahkan oleh orang Tionghua sendiri. Konfusius, peletak dasar ajaran etika bangsa Tionghua, tidak mengajarkan penyembahan kepada leluhur, seakan-akan mereka itu setingkat dewa. Persembahan itu hanyalah sarana untuk menyatakan hormat dan penghargaan kepada leluhur/tokoh-tokoh yang berjasa dalam hidup.

Pernyataaan Konfusius bahwa “orang harus menghormati roh-roh, tetapi juga menjaga jarak dari mereka” (Lun Yu IV:20), dan dia “mempersembahkan (kepada leluhurnya) seakan-akan mereka hadir, dan memberikan persembahan kepada roh-roh seakan-akan mereka hadir” (Lun Yu III: 12), serta “bila engkau masih belum dapat menunaikan tugasmu terhadap manusia, bagaimana engkau dapat melaksanakan tugasmu terhadap roh-roh” (Lun Yu XI, 11) sering ditafsirkan sebagai ajaran untuk mempersembahkan korban atau persembahan kepada roh-roh halus atau arwah leluhur. Sesungguhnya, apa yang diajarkan oleh Konfusius adalah bahwa manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghormati baik manusia maupun roh/arwah. Persembahan merupakan sarana dan perwujudan sikap untuk tidak melupakan/melalaikan mereka.

Masyarakat Tionghua membagi dunia dalam dualisme yin-yang 阴阳. Kehidupan di dunia ini disebut dunia yang , dan kehidupan sesudah dunia ini disebut yin . Maka bila orang meninggalkan dunia ini, dia berpindah ke dimensi lain dari kehidupan. Mereka tidak mati dalam pengertian binasa, tidak ada lagi, dan tidak mempunyai hubungan dengan dunia. Hubungan antara yang hidup dan yang mati, antara dunia sini dan dunia sana, inilah yang harus dijaga keseimbangannya. Bila keseimbangan itu terganggu, roh-roh akan marah. Keseimbangan ini dijaga bukan dengan persembahan, melainkan dengan perilaku hidup moral yang baik dan benar (bdk. Yijing I: 12; bdk. Fung Yu-Lan, A History of Chinese Philosophy, Princeton University Press, New Jersey, 1973, hlm. 23-24). Sementara persembahan dan korban hanyalah sarana untuk menyatakan hubungan yang dekat ini.


Menghormati Arwah

Hubungan antara manusia dengan arwah orang tua yang sudah meninggal dilestarikan dengan pelbagai upacara. Untuk menghormati orang yang telah meninggal, upacara ini dirayakan dalam dua perayaan besar.

Qingming 清明/Chengbeng

Meskipun dasar ajaran penghormatan kepada leluhur berasal dari Konfusius, praktek penghormatan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Buddha dan Dao (Tao), terutama dalam upacara pemakaman dan persembahan. Tetapi inti dari penghormatan, yakni bakti anak kepada orang tua, tetap tidak berubah

Pada pertengahan musim semi (biasanya dirayakan pada tanggal 4 April), orang-orang pergi berziarah ke kuburan untuk membersihkan kuburan dan mempersembahkan kurban dalam bentuk makanan maupun pembakaran kertas sembahyang. Inilah yang disebut dengan hari Qingming/Chengbeng. Biasanya qingming dilihat sebagai hari di mana keluarga berkumpul bersama-sama untuk menunjukkan bakti kepada orang tua.

Perayaan Qingming ini diperkirakan berasal dari Dinasti Han, dan menjadi perayaan pada jaman Dinasti Tang. Ada dua kisah utama yang muncul dalam perkembangan perayaan ini, yaitu tentang Jie Zitui, yang dihubungkan dengan Perayaan Makanan Dingin, dan kisah tentang Zu Yuanzhang. Melihat dua kisah ini, tidak ditemukan sedikitpun unsur tahyul atau animistik dalam sembahyang terhadap orang yang meninggal, melainkan lebih menampilkan kisah kesetiaan, kepahlawanan, dan bakti kepada orang tua. Namun dalam prakteknya perayaan qingming selalu disertai dengan upacara yang bertradisi animistik, seperti dengan sembahyang makanan di depan kubur dan membakar kertas-kertas sembahyang.

Pada hari ini orang Tionghua mengunjungi makam, columbarium maupun klenteng di mana abu atau papan nama orang tua disemayamkan. Bagi mereka yang mengunjungi kuburan orang tua, ini juga merupakan saat di mana seluruh keluarga berkumpul dan membersihkan kuburan orang tua sambil menghaturkan persembahan.

Sebagai praktek yang menekankan bakti pada orang tua, perayaan qingming sebenarnya mirip dengan tradisi Gereja yang merayakan Peringatan Arwah tanggal 2 November. Yang membedakannya hanyalah soal tradisi atau perayaannya. Keduanya menampakkan hubungan yang tak terputus antara orang yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup di dunia.

Iman kristiani mengajarkan bahwa hubungan antara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup ini terungkap dalam persekutuan para kudus. Artinya, bahwa mereka yang sudah meninggal dapat kita doakan dalam kasih Allah, terlebih bagi arwah di api penyucian. Di sisi lain, kita pun dapat memohonkan doa-doa dari mereka yang sudah berbahagia di surga untuk kita yang di dunia ini (Peringatan Semua Orang Kudus 1 November).

Tradisi Tionghua yang menekankan kepada bakti kepada orang tua dalam perayaan qingming ini bukan sesuatu yang membahayakan iman kita. Mengunjungi dan membersihkan kuburan sebagai ungkapan cinta anak kepada orang tua kiranya tidak perlu ditinggalkan hanya karena sebagian besar orang menyertainya dengan praktek non kristiani. Asalkan para pengikut Kristus mengunjungi makam dan membersihkannya tetap hidup dalam iman bahwa Kristus sudah membebaskan semua manusia dari dosa dan memberikan hidup abadi melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Persembahan apa pun (makanan, kertas sembahyang, dll) yang ditujukan tidak mempunyai arti apapun, karena persembahan itu tidak bisa menolong mereka, tidak mempunyai kuasa penyelamatan. Hanya Kristus penolong sejati. Justru orang Katolik jatuh ke dalam "penyembahan berhala" bila menganggap persembahan- persembahan itu bisa menyelamatkan dan menolong arwah. Kita tidak bisa menyelamatkan arwah-arwah yang menderita, tetapi kita bisa berdoa memohonkan rahmat dan pengampunan Tuhan bagi arwah-arwah di api penyucian agar mereka dapat segera bebas dari siksa sementara dan segera bersatu dengan Allah dalam kebahagian abadi di surga.

Zhong Yuan Jie中元节/Sembahyang Rebutan

Upacara sembahyang ini biasanya jatuh di bulan Agustus, diyakini bahwa pada bulan ini roh-roh kelaparan dilepaskan dari neraka untuk mencari makan di dunia. Cerita ini berasal dari mitos seorang rahib Buddha bernama Mu Lian yang sangat mengasihi ibunya. Setelah ibunya meninggal, Mu Lian bermimpi ibunya datang dan berkata bahwa dia lapar. Setelah terbangun, Mu Lian sangat sedih, dan mempersembahkan makanan kepada ibunya. Melalui pelbagai macam cara dan setelah mendapat petunjuk dari beberapa nasihat Buddha, dia akhirnya dapat bertemu dengan ibunya dan memberi makan.

Dasar dari upacara Zhong Yuan (中元) ini adalah kepercayaan bahwa arwah masih membutuhkan makanan dari dunia, bahkan menjadi arwah kelaparan yang bisa mencari makan di dunia orang hidup. Ajaran ini sangat tidak sesuai dengan iman kristiani. Ajaran lain mengenai pintu neraka yang terbuka, arwah-arwah kelaparan, dan apalagi mengenai memberi makan kepada arwah tidak bisa kita terima. Umat beriman seharusnya berpegang bahwa keselamatan datang dari Kristus, bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari Kristus (Rom 8:35-39).

Upacara Pemakaman

Kremasi bukanlah hal yang lazim dalam masyarakat Tionghua, karena dibawa oleh agama Buddha dari India. Pemakaman merupakan pilihan terbaik, yang dilakukan dengan sangat serius, karena beberapa alasan ini.

1. Pemakaman dan upacara kabung merupakan wujud kelihatan dari bakti kepada orang tua.

2. Pemakaman yang tidak tepat akan membawa nasib buruk bagi keturunan yang masih hidup. Karena itu letak makam dan kapan waktu pemakaman menjadi pertimbangan bagi keluarga (memperhatikan fengshui 风水).

3. Upacara kabung dan pemakaman ditentukan oleh usia. Orang yang lebih tua tidak boleh memberikan penghormatan kepada orang yang lebih muda. Karena itu bila yang meninggal itu seorang muda yang belum menikah, jenazahnya tidak boleh dibawa pulang, dan orang tua tidak berdoa di depan jenazah anaknya.

Dari ketiga alasan ini, hanya alasan pertama yang dapat diterima umat Kristiani. Sementara alasan ke dua dan ke tiga merupakan praktek kepercayaan tahyul.

Sungguh disayangkan bahwa masih banyak orang Katolik mempraktekkan cara-cara tahyul tersebut. Bahkan buku Ibadat Melepas Jenazah dan Memperingati Arwah yang diterbitkan sebagai buku upacara resmi Gereja oleh penerbit Nusa Indah (mendapatkan imprimatur dan nihil obstat) berisi banyak ajaran yang keliru dan bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Buku ibadat itu malahan menganjurkan umat membakar kertas sembahyang sebagai uang-uangan untuk memberikan sangu kepada arwah orang meninggal dan mempersembahkan semangka (hlm. 35) serta memecahkannya (hlm. 66). Praktek tersebut adalah praktek tahyul yang tidak bisa diterima iman Kristiani. Kremasi, yang sesungguhnya sebelum masuknya agama Buddha dianggap tindakan kejam terhadap jenazah orang tua, malah dikatakan memiliki nilai kesalehan, yakni bakti kepada orang tua (hlm. 54) .

Kepercayaan akan mimpi kedatangan arwah leluhur dapat menjerumuskan umat beriman kepada kepercayaan dan praktek tahyul. Apalagi bila karena mimpi iman orang menjadi terganggu sehingga mulai tergoda memberikan persembahan-persembahan kepada arwah untuk kesejahteraan arwah di dunia lain.

Pertimbangan Pastoral

Mendoakan arwah orang yang meninggal merupakan sikap yang sejalan dengan iman kristiani. Berhadapan dengan orang yang meninggal, Gereja mempercayakan seluruh pengharapannya kepada Yesus Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Dengan darah-Nya yang kudus, kita telah ditebus dari kematian dan memberikan kehidupan abadi. Maka sebelum orang meninggal, Gereja membekali umatnya dengan viaticum, yaitu bekal berupa Tubuh Kristus dalam perjalanan dia menuju kepada Kristus. Setelah meninggal, arwah tidak membutuhkan makanan lain lagi, kecuali doa dan cinta kita, yang dipanjatkan kepada Allah Bapa memohon pengampunan dan belas kasih Allah.

Pelbagai praktek pemakaman, seperti melihat hari, menghitung jam, membakar kertas sembahyang dan memecahkan semangka, dan berbalik badan saat peti dimasukkan ke dalam kuburan, sangat tidak sejalan dengan iman Gereja. Karena itu hendaklah para petugas pastoral mengajak umat untuk memfokuskan perhatiannya kepada Kristus sang Penebus, bukan pada ketakutan yang tak beralasan.

Kremasi, yang saat ini cukup lazim di Indonesia, merupakan alternatif lain karena pertimbangan praktis tidak lagi ditolak oleh Gereja. Dalam hal ini abu jenazah dapat dikuburkan di tanah, atau di columbarium dengan upacara yang layak seperti pemakaman biasa dengan disertai doa-doa yang tercantum dalam buku-buku liturgis. Juga apabila dilarung di laut, dapat disertai dengan doa-doa lain yang bisa diambil dari buku-buku liturgis dengan sedikit modifikasi yang disesuaikan dengan situasi.

Orang Tionghua jaman dahulu tidak menyimpan abu jenazah di rumah, melainkan di rumah abu. Dalam perkembangan jaman, klenteng dan vihara juga menyediakan tempat penyimpanan abu ini, agar keluarga dapat memberikan penghormatan yang layak kepada arwah sanak keluarga yang sudah meninggal. Alangkah baiknya bila di columbarium yang dikelola oleh Gereja Katolik disediakan tempat untuk berdoa khusus bagi keluarga yang datang pada hari peringatan arwah atau hari qingming, atau bahkan kapel untuk Perayaan Misa dengan intensi bagi arwah orang yang meninggal.

PENUTUP

Penghormatan kepada arwah leluhur merupakan cerminan sikap bakti orang Tionghua terhadap orang tua. Sikap ini kemudian berlanjut kepada praktek-praktek yang sangat dipengaruhi oleh pandangan animistik dan tahyul masyarakat, dan berubah kepada sikap menyembah dan berdoa seperti kepada roh-roh dan berhala.

Umat Kristiani juga tidak luput dari pengaruh seperti ini, apalagi bila mendapat mimpi. Cara berpikir seperti ini rupanya masih terikat kepada kebiasaan lama yang tidak Kristiani, masih terbelenggu, diperbudak oleh kepercayaan yang sia-sia. Padahal umat kristiani sudah dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Roma 8:21).

Selain itu, Rasul Paulus mengajar kita untuk melihat Yesus Kristus sebagai pusat seluruh hidup dan pengenalan kita. Apakah kita mampu berkata seperti Paulus, Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Filipi 3:8).


KEPUSTAKAAN

1. Rm. Samuel Pangestu, Pr. & Rm. M. Kristiyanto, Pr., Ibadat Melepas Jenazah dan Memperingati Arwah, Nusa Indah, Ende, 2003.

2. Daniel Tong, A Biblical Approach to Chinese Traditions and Beliefs, Genesis Books, Singapore, 2004.

3. Goh Pei Ki & Fu Chunjiang, Origins of Chinese Festivals, Asiapac, Singapore, 2004.

4. Fung Yu-Lan, A History of Chinese Philosophy, Vol. I, Princeton University Press, New Jersey, 1973.

Saturday, January 17, 2009

Menuju Inkulturasi Misa Imlek (Bagian IV Terakhir)

b. Hiasan-hiasan dalam gereja

Dalam konteks Misa Imlek, ide utama dalam Misa itu adalah bahwa pada hari itu umat Katolik diundang untuk bersatu lebih erat lagi dengan Kristus. Bila saudara-saudaranya yang tidak seiman pergi berdoa di klenteng untuk memohonkan berkat pada tahun yang baru dan mengenyahkan bencana, maka bagi umat kristiani mereka datang ke gereja untuk bersatu dengan Kristus. Perhatian utama dalam Misa Imlek bukan lagi takut akan “nasib buruk” di tahun yang baru, melainkan adalah bahwa umat dengan mantap “melangkah bersama Kristus” memasuki tahun baru.

Hiasan-hiasan dalam gereja pada hari-hari raya bermaksud memberi warna istimewa, bahwa hari itu adalah hari khusus, di mana orang semakin diajak untuk merenungkan lebih mendalam lagi misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, dan semakin meneguhkan iman kita. Secara khusus pada Misa Imlek, biasanya gereja-gereja didekorasi begitu indah untuk menciptakan suasana oriental. Namun kerap kali yang terjadi malahan dekorasi itu mengacaukan konsentrasi umat, dan mengalihkannya dari Kristus yang menjadi pusat perayaan. Maka hendaknya hiasan-hiasan khas oriental itu tidak dibuat berlebihan. Atau dengan bahasa gamblangnya “tidak memindahkan klenteng ke dalam gereja,” supaya umat dapat dengan mudah mengarahkan perhatiannya Yesus Kristus yang hadir dalam seluruh perayaan Ekaristi.


c. Pantang dan Puasa

Kalau melihat kalender liturgi, masa prapaskah biasanya jatuh pada bulan Februari. Sementara itu Imlek bisa saja jatuh sekitar bulan Februari. Beberapa tahun terakhir ini Imlek jatuh pada hari-hari di sekitar Rabu Abu, bertepatan dengan Masa Prapaskah.

Menanggapi umat yang merayakan Imlek, demi alasan pastoral dan inkulturasi, beberapa keuskupan merasa perlu memberikan dispensasi dari kewajiban pantang dan puasa di hari Rabu Abu bila Imlek jatuh pada hari Rabu Abu, dan menggesernya ke hari yang lain. Keputusan yang demikian ini amat disayangkan, karena justru lebih mengikuti trend dan salah kaprah, yang menganggap bahwa Tahun Baru Imlek baru mempunyai makna bila disertai dengan pesta dan makan-makan.

Bila dilihat dari persiapan menyambut Tahun Baru Imlek, nyatalah bawa perayaan ini didahului dengan acara membersihkan rumah dan diri. Pakaian baru juga disiapkan untuk dipakai pada tahun yang baru. Semuanya ini memiliki makna simbolik, yakni bahwa pada tahun baru semuanya harus baru. Membersihkan seluruh rumah merupakan tanda lahir dari sikap membersihkan diri. Sebagai kelanjutannya mereka yang beragama Buddha justru berpantang daging selama tujuh hari imlek sebagai tanda askese dan pembersihan diri.

Maka menjadi sangat aneh bila Gereja justru “mengalahkan” Rabu Abu yang sungguh bermakna pertobatan hanya demi “menghormati” tradisi Imlek. Bukankah kebiasaan menyambut Tahun Baru Imlek dengan “bersih-bersih” ini menjadi semakin mendalam lagi dalam penghayatan Rabu Abu dan masa Prapaskah? Barangkali ini tradisi yang demikian dapat menjadi guru katekese yang baik bagi penghayatan hidup rohani umat kristiani yang merayakan imlek dan mempersiapkan diri merayakan Paskah Kristus.


4. Penutup

Jalan menuju inkulturasi masih panjang, apalagi menyangkut Misa Tahun Baru Imlek. Lingkungan di sekitar ikut mempengaruhi pemahaman yang tepat akan suatu tradisi. Gereja Indonesia tidak luput dari ketegangan, antara mengakomodasi kebutuhan umat Katolik yang masih merayakan imlek dengan mereka yang sudah tidak merayakan imlek di satu sisi, dan akan tradisi lain di bumi Nusantara. Jangan karena upaya ini Gereja dianggap sudah dimonopoli oleh kelompok tertentu.

Apa pun yang dirayakan dalam Misa, hendaknya selalu diingat bahwa Misa adalah perayaan syukur, suatu eucharistia, yang berfokus dan berpuncak pada Yesus Kristus. Pada-Nyalah seluruh liturgi Gereja berpusat. Apakah namanya Misa Imlek, Misa Karismatik, atau pun Misa-misa lain yang memakai budaya tertentu, Misa tetaplah merupakan kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus Yesus. Dan Gereja menjamin bahwa setiap umat mendapatkan hak dan kesempatan yang sama untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus, jaminan keselamatan manusia. Seandainya suatu paroki tidak secara khusus merayakan Misa Imlek, dan ada umat yang merindukan pada hari raya Imlek mereka dapat bertemu Yesus Kristus dalam Ekaristi, menyambut Tubuh-Nya yang mulia dan Darah-Nya yang berharga, maka pintu Gereja selalu terbuka untuk putra-putrinya.



Menuju Inkulturasi Misa Imlek (Bagian III)

3. Simbol dan Rahmat Allah dalam Misa Imlek

Tentunya perayaan suatu masyarakat muncul dari penghayatan akan nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai perayaan itu kemudian disakralkan dengan upacara keagamaan, agar masyarakat yang merayakannya tidak hanya jatuh pada pesta pora kegembiraan, tetapi mempersiapkan manusia yang merayakannya dalam lingkup yang lebih rohani. Di sinilah rakyat atau masyarakat diikat dalam kesatuan suci yang membentuk mereka menjadi umat kudus (2
Bdk. The New Dictionary of Catholic Spirituality, The Liturgical Press, Collegeville, Minesota, 1993, hlm. 243). Hal yang sama terjadi dengan perayaan tahun baru Imlek. Apalagi perayaan ini adalah perayaan tahun baru menurut penanggalan imlek, maka mereka yang merayakannya merasa perlu memasuki tahun yang baru dalam keadaan penuh berkat.


a. Suatu Ketegangan Baru

Boleh tidaknya merayakan imlek kerap kali menjadi dilema bagi umat kristiani Tionghua. Mereka dihadapkan pada pilihan antara tetap merayakan Tahun Baru Imlek ataukah meninggalkannya karena sudah menerima pada Kristus. Kedua hal ini sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Orang tidak perlu dipaksa untuk memihak yang satu dan menolak yang lain. Yang lebih utama adalah apakah tradisi itu bisa semakin memantapkan imannya pada Kristus. Di sini Gereja dapat menjadi jembatan penghubung yang ampuh melalui pemahaman yang tepat akan tradisi ini.

Pertanyaan dari sebagian umat “mana lebih utama, iman atau adat?” akan membawa kita kepada persepsi yang salah, dan “memaksa” kita harus berpihak: iman atau adat. Padahal tidak semua perayaan dalam tradisi itu jelek dan bertentangan dengan iman. Bagaimana mungkin pewartaan Injil akan berjalan dengan baik bila belum apa-apa justru sudah menghakimi suatu tradisi tanpa mempelajari dan mengerti tradisi tersebut? Yang perlu diperhatikan adalah apakah dengan mengadakan Misa Imlek umat semakin dekat pada Kristus sendiri, ataukah sebaliknya.

Perayaan Tahun Baru Imlek dalam kehidupan menggereja tidak perlu sampai menimbulkan ketegangan baru. Secara sekilas Tahun Baru Imlek memiliki kemiripan dengan praktek paskah Yahudi, meskipun konteks dan teologinya sangat berbeda. Namun hal itulah yang menggelitik untuk dilihat secara bersamaan, ditambah lagi Buku Misa yang mendapat imprimatur dari Komisi Liturgi Konferensi Uskup Taiwan (4
Bdk. juga TPE Bahasa Mandarin-Indonesia dengan suplemen Misa Tahun Baru Imlek, Dioma, 2007) memakai kutipan perjamuan Paskah bangsa Yahudi sebagai bacaan pertamanya. Di sana ditemukan unsur-unsur yang sama, misalnya ada yang lewat/berlalu, ada makan bersama dalam keluarga, warna merah (darah) di depan rumah, dan lain-lain.

Barangkali di sinilah letak inkulturasi Gereja di Taiwan untuk membawa orang lebih mengimani Kristus. Kebanyakan proses atau upaya inkuluturasi di Indonesia berhenti hanya pada hal-hal lahiriah, dengan penggunaan simbol-simbol tradisional, namun tidak menyentuh esensi dan masuk ke dalam nilai-nilainya sendiri. Lebih menyedihkan lagi kalau inkulturasi dijalankan hanya bertujuan demi inkulturasi itu sendiri.

Maka bila Gereja Indonesia hendak merayakan Imlek, beberapa aspek ini hendaklah menjadi pertimbangan, agar jangan sampai para petugas pastoral jatuh pada semacam eforia perayaan Imlek yang datar dan sekadar di permukaan saja.

i. Lewat/berlalu

Ungkapan yang biasa diucapkan dalam merayakan Imlek adalah guònián (过年), yang artinya adalah nián lewat. Nián dalam bahasa Mandarin adalah tahun. Karena itu pada hari pertama imlek, orang-orang mengatakan bahwa nián telah lewat, tahun yang lama sudah berlalu. Inilah ungkapan kegembiraan bahwa manusia sudah melewati satu tahun perjalanan hidupnya, baik dalam “kegembiraan, kesusahan, keberhasilan maupun kegagalan” (5
TPE Bahasa Mandarin-Indonesia, Dioma, 2007, hlm 109), dan saatnyalah memulai hidup yang baru dengan semangat yang baru. Yang sudah berlalu dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk menapak ke masa depan yang lebih baik.

Kita bisa melihat sedikit gambaran pada perayaan Paskah dalam tradisi Yahudi. Pada malam sebelum Paskah mereka semua bersiap-siap menantikan Allah melewati tanah Mesir (bdk. Kel 12:12) untuk membebaskan mereka dari perbudakan, dan membawa mereka menuju ke Tanah Terjanji, ke masa depan yang lebih baik.

Meskipun keduanya berbeda, tidak disangkal bahwa ada konteks melewati yang memberi harapan kepada manusia. Sambil menunggu dan berjaga-jaga orang diajak untuk mengarahkan diri kepada sesuatu di masa depan.

Sewaktu bangsa Israel merayakan perjamuan paskah, ketika mereka masih diperbudak di tanah Mesir, terjadilah perubahan ini: Tuhan akan berjalan dari tengah-tengah Mesir, dan mendatangkan bencana bagi mereka dengan membunuh anak-anak sulung mereka (bdk. Kel 11:4-5; 11:12). Sementara itu bangsa Israel berjaga-jaga (bdk. Kel 11:42)
menantikan pembebasan. Bagi Israel, mereka menyebut bahwa Allah melawat umat-Nya, membawa mereka melewati malam yang tegang menuju kepada hari yang lebih baik keesokan harinya.

Sementara itu, kebiasaan orang Tionghua jaman dahulu, pada malam Imlek orang tua berjaga-jaga menemani anak-anak yang tidur, agar mereka tidak mendapat bencana. Kalau bisa anak-anak juga tidak boleh tidur. Sebab mereka menantikan
nián yang membawa bencana guòqù (berlalu/lewat).


ii. Makan

Pada malam hari sebelum Imlek, seluruh keluarga akan berkumpul di rumah orang tua untuk makan bersama. Kiranya pada waktu makan di sana terciptalah suasana yang hangat dan saling berbagi. Dengan menikmati makanan yang sama dari meja yang sama pula, dengan berbagi, seperti perjamuan paskah Yahudi, di mana bila satu keluarga tidak dapat menghabiskan seekor domba, dia dapat mengajak tetangganya (bdk. Kel 12:4), semua perbedaan antar anggota keluarga menjadi lebur. Mereka yang mungkin pernah tidak saling menyapa dan bermusuhan kini membina kembali hubungan keluarga yang indah ini di depan orang tua.

Alangkah indahnya kalau makanan jasmani yang dinikmati di malam sebelum Tahun Baru Imlek diarahkan pada makanan yang tidak dapat binasa dalam Ekaristi pada keesokan harinya. Pada saat di mana saudara-saudara yang belum percaya kepada Kristus, namun pagi-pagi sudah bersembahyang di klenteng-klenteng memohonkan berkat, Gereja juga mengajak putra-putrinya untuk bertemu dengan Kristus dan bersatu dengan-Nya melalui santapan roti para malaikat, yang menguatkan jiwa dan jaminan hidup abadi (bdk. Yoh 6:1-59).


iii. Warna Merah

Bangsa Yahudi memakai darah anak domba untuk memberi tanda di depan rumah mereka sebagai tanda, agar Tuhan melewati rumah mereka dan tidak mendatangkan bencana (bdk. Kel 11:13). Darah menjadi tanda keselamatan bagi umat Israel, darah juga yang menjadi meterai perjanjian Allah dan umat-Nya di gunung Sinai (bdk. Kel 24:8)

Warna merah ternyata juga
menjadi tanda untuk orang Tionghua. Bahkan dapat dikatakan bahwa warna merah menjadi warna kesukaan orang Tionghua, karena menampakkan kegembiraan, dan dipercaya dapat menolak bala atau bencana. Orang menikah, pesta ulang tahun, dan semua yang bersifat pesta kegembiraan selalu didominasi dengan warna merah. Selain memang sebagai tanda kegembiraan, juga merupakan semacam lambang perlindungan dari yang jahat. Yang paling mencolok adalah pemberian amplop kecil berisi uang yang disebut hóngbāo atau angpao.


Biasanya mereka yang sudah berkeluarga (orang tua) yang memberikan hóngbāo kepada mereka yang belum menikah (anak-anak) sebagai tanda berkat dan bekal kepada orang muda untuk memasuki tahun yang baru. Alangkah indahnya bagi orang Kristen agar tidak hanya memberikan uang dalam hóngbāo kepada anak-anak, melainkan mengisinya dengan ayat-ayat Kitab Suci sebagai bekal bagi mereka memasuki Tahun Baru Imlek.

Hóngbāo, yang karena warnanya merah darah, juga bisa mengingatkan orang akan darah berharga Yesus Kristus yang dicurahkan di salib. Tidak lagi dalam sikap orang yang tidak mengenal Kristus, melainkan bila disertai dengan ayat-ayat Kitab Suci, menyegarkan kembali iman akan ikatan istimewa yang telah dibuat Kristus, yaitu penebusan dengan darah-Nya yang mulia dan berharga.