Syalom!

Blog ini berupaya menyajikan jurnal studi Filsafat dan Teologi
para mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana - Malang.
Tulisan-tulisan yang dimuat di sini adalah pendapat penulis sendiri, bukan cerminan pendapat pengelola blog. Tulisan-tulisan ini adalah hasil perenungan dan kerja keras para mahasiswa, dan tidak mengandaikan isinya adalah ajaran resmi Gereja Katolik.
Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Saturday, April 4, 2009

MENJADI RASUL SEJATI MENURUT PAULUS

oleh:
Tomi Hariono, PR

1. Pengantar
Jika seseorang hidup tanpa mengenal Kristus di dalam dirinya, maka ia hidup di bawah kemarahan Allah. Dia hidup bagaikan hidup dibawah langit mendung tanpa guntur. Ungkapan ini diambil dari ungkapan yang biasa digunakan oleh para Nabi dalam Perjanjian Lama. Kemarahan Tuhan ditujukan dalam kehidupan yang mengerikan. Kehidupan yang mengerikan ini merupakan hukuman bagi orang yang tidak setia. Hukuman diberikan kepa
da orang yang telah berdosa,
 contoh Sodom dan Gomora. Sehingga di dalam keadaan dosa tidak mungkin orang dapat diselamatkan atau memperoleh keadilan. Maka tak seorangpun dapat luput dari murka Allah, hubungan umat manusia dengan Allah telah putus. Putusnya hubungan ini memasukkan manusia pada dosa. Dosa yang telah membawa kehancuran baik jiwa maupun raga.
Dalam suratnya kepada umat di Roma (2,14) Paulus mengatakan meskipun orang kafir, asal mereka mengikuti imannya dengan baik, maka akan menerima rahmat yang cukup sehingga dia diselamatkan. Di sini Paulus sebagai Rasul Kristus ingin melawan peradaban Romawi-Yunani yang sama sekali kafir itu. Paulus berjuang bukan untuk dirinya melainkan untuk umatnya. Bahkan banyak orang menyembah berhala karena mereka menuruti kehendaknya sendiri, mereka tidak lagi memuliakan Allah. Mereka menjadi bebal dalam segala pikirannya, tidak mau mengucap syukur pada Allah, hati mereka juga menjadi gelap dan jauh dari Tuhan. Mereka menamakan diri orang bijaksana tetapi sebenarnya bodoh. (Rom 1, 21-23) Demikianlah faktanya bahwa kedurhakaan manusia menindas kebenaran yang dari Allah. Hidup mereka penuh dengan iri hati, kebencian, balas dendam, tidak setia, sombong, pandai dalam kejahatan serta tidak mengenal belas kasihan (Rom1, 24). Hidup dalam kegelapan kafir memang busuk!
Berangkat dari realita inilah Paulus sebagai Rasul Kristus berusaha untuk kem
bali menyadarakan iman mereka, berusaha untuk menghadirkan kembali pribadi Kristus di dalam hati mereka. Pribadi Kristus yang telah hilang akibat dosa-dosa mereka. Maka dalam paper ini akan dibahas makna menjadi rasul sejati menurut Paulus. Betapa pentingya menjadi Rasul ditengah-tengah orang berdosa suatu sikap yang sulit dan disinilah akan diperlihatkan juga bagaimana pergulatan Paulus sebagai Rasul. Sebuah pergulatan hidup sebagai Rasul yang tidak mudah. Penulis melihat bahwa Paulus terus berusaha memaknai hidupnya sebagai Rasul melalui tahap kronologis teologis kerasulannya. Paulus mengalami beberapa pergulatan dalam hidupnya yaitu bertolak dari latar belakang Yudaisme menuju pada pelayanan kerasulan sebagai murid Kristus yang sejati. Usaha-usaha menjadi Rasul Kristus inilah yang akan dipaparkan dalam paper ini.
Dengan bercermin pa
da pergulatan hidup Paulus akan banyak ditemukan gagasan-gagasan mengenai kerasulan Kristiani yang benar. Gagasan akan sikap-sikap merasul yang dapat dirumuskan secara jelas bagi umat Kristiani dewasa ini. Dengan kata lain akan dijelaskan nilai-nilai luhur dari merasul. Sebuah nilai yang tidak dipandang sebagai sebuah keharusan melainkan sebuah ketaatan yang sejati kepada Allah. Nilai-nilai yang sarat akan makna merasul inilah yang akan sangat menentukan bagi hidup Kristiani (1 Kor 9: 23).

2. Bagaimana Menjadi Rasul Sejati Menurut Paulus?
Secara kronologis biografis Paulus adalah Paulus berasal dari Tarsus. Tarsus merupakan kota perdagangan dengan kultur Yunani. Paulus merupakan orang perantau yang hidup di Tarsus di daerah kilikia (Kis 9:11;21). Sebagai orang Yahudi yang berstatus migran Paulus sangat taat kepada hukum Taurat. Melalui sikap ketaatanya pada taurat ini dapat dikatakan bahwa Paulus sangat terdidik secara intens dalam hukum Taurat. Sejak umur sebelas tahun dia dikirim ke Yerusalem untuk belajar pada seorang rabi terkemuka yaitu Gamaliel (Kis 22:3). Kemungkinan besar Paulus adalah seorang pengajar hukum Taurat. Sebelum pertobatannya Paulus termasuk dalam bagian kaum Farisi. Kelompok orang yang berusaha melaksanakan perintah-perintah Taurat dengan setia. Sehingga jika ada orang yang melawan dan tidak taat pada hukum Taurat, maka tidak segan-segan Paulus menghukum mereka seperti dilukiskan dalam Kis 22:4; 26:9-12; Gal 1: 13 tentang kekejaman penganiyaan Paulus terhadap orang kristen.
Bagi Paulus sendiri menjadi Rasul Kristus harus berani untuk menunjukkan imannya. Iman akan Yesus Kristus yang sudah bangkit. Maka menjadi Rasul sejati versus Paulus akan disempitkan pada tiga point penting sebagai Rasul. Tiga point tersebut akan dijelaskan di bawah ini yaitu:

A. Menyadari Indentitasnya
Masyarakat zaman Paulus mengalami krisis identitas. Salah satu contoh adalah surat Paulus kepada komunitas Kristiani di Filipi. Mereka berpikir hanya dari sudut materi, seolah-olah hanya dari benda-benda materi mereka dapat hidup. Paulus pun mengalami transfigurasi identitas. Yesus Kristuslah yang telah mengubah identitasnya. Semula Paulus ingin membasmi dan menangkap orang-orang Kristen, akan tetapi pengalaman dasyat telah mengubah hidupnya (Kis 22:4). Perubahan nama dari Saulus menjadi Paulus merupakan bukti lahirnya identitas baru dalam hidupnya. Kesadaran akan Kristus menjadi sebuah nilai baru bagi Paulus.
Menyadari identitas sangatlah penting. Identitas Paulus untuk mau menjadi Rasul senantiasa selalu dikaitkan dengan figur Yesus Kristus. Hal ini jelas terungkap dari kata-kata Paulus sendiri, yaitu
“Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semua. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semua itu dan kuanggap sampah” (Flp 3:7-8)
Dengan menyadari identitas sebagai Rasul, Paulus telah mengubah secara total pilihan hidupnya.Sebuah kesadaran yang membawanya secara penuh menjadi pengikut Kristus. Menjadi pengikut Kristus dalam konteks Paulus tidaklah mudah. Paulus harus berjuang membawa kebenaran kebangkitan Kristus kemana-mana. Sebuah perjuangan yang didasari oleh kesadaran identitas yang tinggi, bahkan Paulus sendiri dengan berani mengatakan:
“Bukan lagi aku melainkan Kristuslah yang hidup dalam diriku” (Gal 2:20)
Inilah sebuah perjumpaan yang membawa identitas baru bagi Paulus, identitas Rasul sejati. Bahkan setelah Paulus menyadari bahwa dirinya orang berdosa. Paulus mengatakan:
“Celakalah aku kalau tidak mewartakan Injil” (1 Kor 9:16)
Bagi Paulus Kristus adalah satu-satunya juru selamat. Tanpa hadirnya Kristus di dunia maka tidak ada harapan, karena manusia terbelenggu oleh beban dosa. Dosa senantiasa membawa manusia kepada maut. Maka kalau kita ingin selamat seseorang harus mau menerima Yesus sebagai sumber imannya. Dengan menerima Yesus berarti sudah membuka diri untuk semakin menyadari identitas pribadinya.

B. Dewasa dalam Roh
Pewartaan Paulus senantiasa berangkat dari situasi dan kondisi mereka yang diwartai. Paulus tahu kapan memberi susu atau makanan keras sesuai kedewasan mereka (1 Kor 3:2). Paulus rela menjadi segala-galanya bagi kemuliaan Yesus Kristus (1 Kor 9:19-23). Menurut Paulus dewasa dalam Roh merupakan salah satu syarat untuk menjadi Rasul Kristus. Dewasa dalam Roh
 mengandaikan bahwa dia harus tahan uji dalam segala cobaan dan mau melayani dengan sepenuh hati. Proses ini membutuhkan kerendahan hati dan semangat pelayanan terhadap sesama. Unsur kerendahan hati ini sangat penting karena Roh Kudus telah diberikan oleh Yesus Kristus pada setiap manusia. Bahkan Paulus sendiri mengatakan:
”Bahwa anugerah-anugerah Roh Kudus telah diberikan seperti dan aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua, tetapi bukan aku melainkan kasih karunia yang menyertai aku”
(1 Kor 15: 20)
Menjadi dewasa dalam Roh berarti mau melaksanakan dan mengerti Roh Allah itu sendiri, sehingga buah-buahnya dapat dirasakan; salah satunya penguasaan diri (Gal 5:22-23).
Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus membawa seseorang pada kedewasaan Rohani. Kedewasaan rohani yang membawa terang bagi sesama. “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan” (Flp 5:8-10). Dewasa dalam roh adalah selalu berpikir dan memusatkan perhatian pada Kristus. Senantiasa membawa pikiran dan perbuatan yang terarah pada Yesus Kristus. Menjadi pribadi yang dewasa menurut Paulus harus dapat mengatasi hambatan-hambatan bagi iman. Hambatan bagi iman adalah rasa takut untuk bertumbuh dalam iman, rasa khawatir terhadap penyelenggaraan Ilahi, keraguan pada diri sendiri, dan terkakhir adalah melawan godaan setan.

C. Dapat Mengatasi Kedagingan
Paulus senantiasa mendidik komunitas-komunitas jemaat yang dilayaninya agar jemaat belajar membangun hidup Kristiani mereka dengan benar (1Kor 11: 28-29, 2 Kor 13:5-6). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rom 8: 1-17), Paulus mendorong jemaat agar hidup menurut Roh Kudus dan tidak membiarkan hidup menurut daging. Perbuatan-perbuatan kedagingan akan membawa pada kehancuran dan kematian. Istilah kedagingan mengacu pada tubuh, emosi, ataupun nafsu seksual. Hasil karya daging terlihat jelas dalam Gal 5:19-21 yaitu dosa-dosa seksual, iri hati, sombong, cemburu, roh pemecah, pencabulan, sihir, perseteruan, perselisihan, amarah, percideraan, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Sifat-sifat ‘daging’ ini membawa pada kecenderungan tidak teratur dari tubuh sehingga dapat membawa manusia pada dosa. Akibatnya adalah terpisahnya hubungan manusia dengan Allah karena sifat daging ini. Di sini Paulus ingin menekankan bahwa ‘daging’ merupakan kodrat manusia yang rapuh, yang dinodai oleh dosa, dan cenderung untuk melepaskan diri dari Allah. Seperti tertulis dalam Roma 7:14-15 yang mengatakan “tetapi aku bersifat daging, terjual dibawah kuasa dosa”. Maka dari itu ‘daging’ merupakan sumber dosa dan menjadi masalah pribadi yang harus diatasi dalam hidup
 kita.
Dalam Roma bab 7 dan 8 Paulus mengagas metode mengatasi kedagingan ini yaitu: (1) mendengarkan sabda Tuhan, berusaha mengerti keinginan Tuhan, dan berusaha senantiasa untuk mentaati perintah Tuhan dengan segenap hati. (2) dengan mengandalkan kekuatan Roh Kudus (Rm 8:3-4). Dalam hal ini kita tidak dapat mengubah hidup kita sendiri. Keinginan daging membelenggu kita ke dalam lingkaran dosa dan ketidakpercayaan. Sehingga kita membutuhkan aturan yang benar dalam hidup, tetapi kita juga membutuhkan perubahan kodrat, yaitu kelahiran baru, menjadi manusia baru dalam Roh Kudus (2 Ptr 1:4). Manusia baru yang dapat memperbaharui diri serta dapat melepaskan diri dari kedagingan.

3. Apa Ciri Menjadi Rasul Sejati Menurut Paulus?
Menjadi pengikut Kristus menjadi Rasul-Nya. Di sinilah Paulus yakin akan perutusannya untuk 
menjadi pewarta karya Allah. Paulus berbalik dari membela Taurat ke pembela Kristus. 
Mengapa bisa demikian? Paulus menjawab Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Sebagai pengikut Kristus Paulus sangat menghayati apa yang diwartakannya. Bahkan sebagai Rasul,
 Paulus rela menderita demi Kristus. Bagi Paulus Kristus adalah kekuatan Ilahi yang memberinya kekuatan untuk merasul. Demi membela Kristus Paulus rela disiksa berkali-kali bahkan Paulus disiksa sampai setengah mati. (2 Kor 11:23-30). Meskipun dibawa ke Roma sebagai tahanan, Paulus tetap mewartakan Kristus (Kis 27-28). Paulus juga konsisten membela orang non yahudi yang menjadi Kristiani (Gal 2:11-14). Maka secara eksplisit Paulus ingin menunjukkan integritas pentingnya sebuah kesetiaan sebagai rasul sejati. Maka dibawah ini akan ditunjukkan ciri-ciri menjadi Rasul Sejati.

A. Dapat Membedakan Gerakan Roh
Menjadi pengikut Kristus diartikan mau melakukan apa saja yang menyenangkan Allah, seperti yang dilakukan oleh Yesus dari Nazaret (Rm 12:2; 14:8; 2 Kor 5:9). Ajaran Paulus mengenai pembedaan Roh berangkat dari sebuah kesadaran bahwa semua yang dibimbing oleh Roh Kudus adalah anak-anak Allah (Rm 8:14). Menjadi Rasul Sejati meminta sebuah syarat yaitu membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus (Rm 8,14). Sebagai Rasul Sejati Paulus menekankan bahwa setiap orang harus dapat menemukan apa yang berkenan pada Allah ini adalah buah dari pembedaan Roh. Menurut Paulus pembedaan Roh merupakan seni mendengarkan terhadap Roh yang membuat orang mengerti apa yang dikatakan Allah kepadanya. Untuk mengerti kuasa Allah dibutuhkan proses. Proses pembedaan Roh itu membutuhkan kepekaan untuk mendengarkan suara Allah dalam keheningan batin (1Kor 12:10). Maka dari itu tujuan pembedaan Roh adalah untuk mengetahui apa yang diharapkan Allah bagi kita saat ini. Kunci dalam proses pembedaan Roh adalah belajar untuk dapat mendengarkan dan membedakan suara Tuhan di antara banyak suara-suara lain. Suara-suara yang lain itu kerap membingungkan hati nurani dan membuat hati manusia menjadi bimbang (1 Tes 5: 19-22).
Proses pembedaan Roh sepertinya ingin menunjukkan pergulatan batin diri kita dalam hidup sehari-hari. Pergulatan batin antara kekuatan baik dan kekuatan jahat; antara pengaruh Allah dan pengaruh Iblis. Karena itulah kita perlu mengerti gerekan Roh dengan jelas, sehingga nantinya kita tidak tertipu oleh gerakan yang menjerumuskan (2 Kor 12:7). Jadi pembedaan Roh berarti tindakan memilah-milah, membedakan aneka gerakan dalam batin. Pembedaan Roh membantu kita untuk meneliti dengan jelas aneka dorongan batin untuk asal-usulnya, menemukan mana yang berasal dari Roh Kudus dan mana yang bertentangan dengan-Nya.
Secara umum inti dari pembedaan Roh dalam hidup orang Kristen adalah kemauan untuk meninggalkan cara berpikir dan penilaian diri sendiri. Senantiasa memusatkan diri pada sikap dan tindakan Kristus. Dapat dikatakan disini pembedaan orang Kristen adalah berpikir bukan lagi pada diri pribadinya, melainkan pikiran Yesus Kristus sendiri. Sikap untuk maju di dalam Tuhan, inilah yang selalu dipraktekkan oleh Paulus (Tit 2:2).

B. Dapat Mengenal Kehendak Allah
Paulus berulang kali menegaskan bahwa hidup seorang Kristiani adalah bersatu dengan Roh Allah. Kedekatan terhadap Allah ini harus terus diusahakan oleh orang beriman. Sudah seharusnya kita sebagai anak-anak Allah berpikir dan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Pernyataan ini disetujui oleh Paulus sehingga dia dengan berani mengatakan:
“Sebagai anak Allah kita mesti mensyesuaikan diri dengan hidup dan martabat Allah, berubah dalam pikriran budi, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah” (Rm 12:2)
Kehendak Allah terungkap lewat tanda-tanda kehidupan, yaitu melalui peristiwa, sesama, kehendak Allah terungkap melalui tanda-tanda dari Allah. Tanda-tanda itu bisa kabur, dan sangat sering tercampur dengan kejahatan. Maka dari itu kita perlu membaca kembali peristiwa hidup dalam Roh.
Menurut Paulus belajar untuk mengenal kehendak Allah merupakan suatu hal yang mutlak diwajibkan sebagai pengikut Kristus. Pembedaan Roh dapat membuat seseorang mengerti apa yang dikatakan oleh Allah. Untuk itulah dibutuhkan kepekaan dan kesadaran diri dalam mendengarkan suara Roh. Suara Roh ini dapat didengarkan dalam keheningan batin. Batin yang terang dan diam akan dapat membedakan Roh dengan jelas, karena pembedaan Roh merupakan anugerah dari Roh Kudus (1 Kor 12:10). Sehingga dalam hal ini yakni mengenal kehendak Allah harus mau dipimpin oleh Roh Allah sendiri. Roh Allah yang dapat menggerakkan perbuatan baik kepada sesama. Bahkan Paulus mengatakan “sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan” (ef 5:8-10)

4. Apa Makna Menjadi Rasul Sejati Menurut Paulus?
Menjadi pengikut Kristus berarti mau menjadi Rasulnya. Paulus merasa yakin bahwa perutusannya di dunia menjadi pewarta kerajaan Allah merupakan perwujudan pribadi Yesus Kristus kepada sesama. Bagi Paulus Yesus sungguh-sungguh Kristus, karena Kristus telah mati karena dosa-dosa kita (1 Kor 15:3). Untuk itulah Paulus mau menjadi Rasul Kristus yang mau mengorbankan seluruh hidupnya untuk Kristus dan untuk semua orang. Bahkan Paulus sendiri mengatakan “celakalah aku jika aku tidak memberitakan injil” (1 Kor 9:16). Paulus rela untuk mempersembahkan hidupnya dengan menjadi rasul bangsa-bangsa (Rm 11:13). Paulus yakin bahwa dirinya senantiasa dijiwai oleh semangat melakukan sebuah kebenaran. Sebuah kebenaran yang sejati sebagai Rasul Kristus.
Sepak terjang Paulus sebagai Rasul, bukan hanya menunjukkan pergulatannya untuk memaknai hidupnya tetapi ingin mengungkapkan universalitas dari keselamatan Kristus. Bagi Paulus Kristus adalah puncak sejarah keselamatan (Rm 10:4); keselamatan yang diperoleh dari salib. Salib merupakan tanda kasih sejati sumber keselamatan. Menjadi Rasul Kristus mempunyai makna dapat mengatasi kepentingan diri sendiri, dapat menghindarkan kecenderungan ekslusif dan saling menghakimi, tidak membeda-bedakan sesama, dan dapat menjauhkan diri dari sikap egoisme. Identitas merasul ini dirumuskan oleh Paulus atas dasar Yesus Kristus yang telah wafat bagi semua orang. Makna merasul ini mengutamakan cara hidup Kristus sendiri yang melawan egoisme, egosentrisme dan fanatisisme. Dengan demikian makna merasul adalah mau menjadi hamba bagi semua orang, dan Paulus berkata “bagi semua orang aku telah menjadi hamba Rasul Kristus” (1 Kor 9:22). Di sini Paulus tidak mau mencari kepentingan diri sendiri, tetapi Paulus lebih suka mencari Kristus.
Menurut Paulus menjadi Rasul Kristus bukanlah profesi yang wajib dilaksanakan, tetapi sikap ini merupakan cara hidup; suatu komitmen pilihan eksistensial. Berangkat dari hal ini Paulus ingin mengajarkan pada kita bahwa menjadi Rasul Kristus bukanlah suatu profesi, karena profesi adakalanya menuntut imbalan. Paulus mengajak orang-orang yang beriman kepada Kristus untuk beralih dalam mengatasi manusia duniawi berubah menjadi manusia rohani. Cara Hidup Paulus ini sangat kontekstual sebagai Rasul Kristus. Cara hidup yang sama sekali tidak menuntut imbalan, upah-mengupah, atau kehormatan. Bagi Paulus upah untuk kerasulannya seakan-akan merupakan suatu pelecehan (bdk 2 Kor 11: 9). Bahkan dengan bangga Paulus mengatakan “upahku ialah: bahwa aku boleh memberitakan injil tanap upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1 Kor 9:18).
Mengapa Paulus sangat anti terhadap upah? Karena menjadi Rasul sejati tidak meminta upah. Orang yang bekerja karena upah adalah hamba upah yaitu menjadi manusia duniawi. Paulus bangga karena menderita demi Kristus, dan demi kemajuan Injil. Paulus rela sangat menderita demi salib, bahkan sampai hampir membawanya pada kematian. Bagi Paulus kasih Allah menjadi dasar yang paling kokoh dalam aktivitas kerasulannya, seperti perkataannya pada jemaat di Galatia yang mengatakan “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6: 14). Oleh karena itu menjadi segala-galanya demi semua orang adalah salah satu makna terdalam menjadi Rasul Kristus.

5. Relevansi dalam zaman ini
Setiap orang Kristiani dipangil untuk merasul. Seperti pesan yang telah diserukan oleh Bapa Suci Benediktus XVI pada hari Minggu Misi sedunia ke-82 kepada para Uskup selaku pemegang otoritas penggembalaan Gereja.
“Seorang Uskup dipanggil untuk menjangkau mereka-mereka yang jauh dan belum mengenal Kristus atau belum mengalami cinta-Nya yang membebaskan”
Pesan ini sangat penting terutama bagi siapapun yang telah mengambil bagian secara khusus dalam kehidupan menggereja termasuk para imam di dalamnya. Pesan ini mau mengatakan bahwa seperti Rasul Paulus setiap orang dipanggil untuk menjadi seorang rasul yang mau memberikan dirinya secara sukarela kepada setiap orang. Mau membagikan semua kemampuan, bakat, serta mau melayani sesama tanpa meminta balasan. Di sinilah peran Gereja di tengah-tengah dunia, inilah misi Gereja (ad gentes) yang hendak mempersatukan semua umat tanpa terkecuali. Berusaha mempersatukan dan mempertemukan semua kegiatan berpastoral dan karya amal. Dalam hal ini disinilah letak kegiatan merasul yang sejati yaitu mau berbagai terhadap sesama apapun itu bentuknya.
Menjadi Rasul sejati pada zaman ini adalah mau mencontoh sikap Paulus yaitu mau merangkul semua orang ke dalam jalan kebenaran. Membebaskan manusia dari arogansi etnis, membebaskan manusia dari jerat dosa duniawi. Sikap menjadi Rasul sejati yaitu harus memerangi keegoisan, matrealisme, dan nilai-nilai keburukan dari kemegahan dunia. Bagi Paulus sikap ini sangat dituntut sebagai Rasul Kristus yang sejati seperti apa yang dikatakannya dalam Gal 3:28 tentang Paulus yang memerangi sikap ekslusif kaum beriman. Kristus yang diwartakan oleh Paulus adalah Kristus yang mau terbuka pada siapa saja, Kristus yang mau melayani siapa saja. Belajar dari pengalaman Paulus ini sebagai calon imam yang nanti akan menjadi pemimipin di masa depan. Perlu sekali mencontoh sikap Paulus yang tidak setengah-setengah dalam pelayanan, tidak mementingkan diri sendiri, mau melayani dengan sepenuh hati. Bahkan Paulus rela menjadi hamba bagi sesama. Inilah sikap yang harus kita contoh sebagai Rasul Kristus, yaitu mau mengabdi kepada sesama manusia demi lahirnya manusia rohani dalam Kristus Yesus.

Monday, January 12, 2009

Hari Raya Pembaptisan Tuhan Tahun B

Renungan ini diambi dari Abbot's Homily

PEMBAPTISAN TUHAN

My sisters and brothers in Christ,

Come to the water! If we are thirsty, we are invited to listen today to the word of the Lord and to be refreshed by the living water that is given to us.

Clearly the focus today is on the Baptism of Jesus Christ, our Lord. It is Jesus, who is holy, who sanctifies the waters of baptism. Yet today He is baptized and we can only be in awe. Jesus takes on every smallest part of our human nature, except for sin. Jesus becomes like us in all ways except sin. Jesus is truly human and yet fully God.

We can understand a bit the reluctance of John the Baptist. More importantly, we can understand from all of the Gospel accounts that something very mysterious happened at the baptism. There is this voice from heaven which tells us clearly: This is my beloved Son! The Father is pleased with His Son.

We know that this baptism also marks the beginning of the public ministry of our Lord Jesus. From this time on, he leaves his home and begins to preach the word of the Father to all who will listen. Are we thirsty for this word?

The First Letter of Saint John tells us that the victory that conquers the world is our faith: our faith in Jesus as God's Son, our faith in Jesus as our Redeemer, our faith in Jesus as the One who loves us completely and without limits.

It is as though the whole of the Old Testament, the Jewish Scriptures, speaks directly to this day of the Lord's baptism, when the people begin to recognize Jesus as the One sent by God.

This great solemnity also speaks to our own baptism. We are baptized into this same Jesus Christ. We become one with Him in a way that is sacrament and mystery and divine. We are one with the Lord and yet we do not always choose to live from that unity with Him. Today's solemnity can remind us that we have a divinely given power to live in the Lord if we are baptized. For sure, when we begin to try to exercise this power, we do not always succeed. The whole of the interior life is based on trying to live from the power given to us in our baptism.

There are two aspects of living in Christ: dying to ourselves and living in Him. These aspects cannot be separated except in our thinking. As we die to all that is darkness and sin and brokenness within us, we come to new life in Him.

We are invited today to live our baptism. We are invited today to marvel at the Lord's baptism. Jesus is baptized unto death. Jesus dies so that we might live. Jesus rises and changes the whole earth. Let us rejoice in Him.

Thursday, January 8, 2009

Sabtu Sesudah Penampakan

Bacaan Misa:
1Yoh 5:14-21
Mzm 149:1-2.3-4.5.6a.9b
Yoh 3:22-30


Mendoakan orang berdosa.


Semua umat Kristus pasti tahu perintah cinta kasih. Bacaan Pertama mulai dari hari Senin sampai dengan Sabtu di Pekan Sesudah Penampakan Tuhan mengajak kita untuk merenungkan cinta kasih Allah. Sebagai akhir dari seluruh rangkaian masa Natal, hari ini kita diajak untuk masuk sampai ke dasar. Allah begitu mencintai manusia yang berdosa dan mau menjadi manusia lemah dengan lahir dalam kandang di Betlehem, itulah sukacita besar bagi manusia. Maka seperti Yohanes Pembaptis mengatakan: "Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh," sebab Kristus menjadi semakin besar.

Biasanya kita berdoa untuk orang-orang yang kita kenal, yang baik kepada kita. Sekarang kita pun diajak untuk semakin memuliakan Kristus dengan mencintai sesama, bukan lagi sesama yang anonim. Tetapi kita diajak untuk masuk lebih jauh: mendoakan orang berdosa! agar merekapun diselamatkan dan dijauhkan dari maut. Dengan demikian, Kristus akan menjadi semakin besar, dan kemuliaannya semakin tersebar ke mana-mana.

Jumat Sesudah Penampakan Tuhan

Bacaan Misa:
1Yoh 5:5-13
Mzm 147:12-13.14-15.19-20
Luk 5:12-16


Kesaksian sejati.


Orang yang sakit kusta dengan sangat memohon agar Yesus menyembuhkan dia dengan berkata: "Tuhan, jika Tuhan mau, Tuhan dapat mentahirkan daku." Kata-kata ini sudah menunjukkan iman ... kalau Tuhan mau. Kerap kali dalam doa kita juga berkata: Kalau Tuhan mau, tetapi dalam praktek, yang kita maksudkan adalah: "Tuhan, aku mau ..."

Orang yang sakit kusta mengajak kita untuk berserah pada Tuhan, dan dengan demikian memberi kesaksian bahwa Tuhan mau yang terbaik untuk kita, bahwa hanya pada Yesus Kristus Anak Allah ada hidup yang kekal. Inilah kesaksian itu; bahwa kasih Kristus mengalahkan kejahatan dunia.

Kamis Sesudah Penampakan Tuhan

Bacaan Misa:
1Yoh 4:19-5:4

Mzm 72:2.14.15bc.17
Luk 4:14-22a

Roh Tuhan ada pada-Ku.

Kalau Roh Tuhan ada pada Yesus, apa yang terjadi?
1. Diurapi untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin.
2. Diutus memberitakan pembebasan kepada tawanan, penglihatan bagi orang buta.
3. Membebaskan mereka yang ditindas.
4. Memberitakan tahun rahmat Allah telah tiba.

Kalau Roh Tuhan ada pada kita, apa yang terjadi?
Roh Kudus yang ada pada Yesus itulah yang sekarang menguasai hati kita melalui pembaptisan. Roh Kudus ini memenuhi hati dengan kasih Allah: mencintai Allah dan mengasihi sesama! Inilah perintah-perintah yang utama. Dan itulah yang mendorong kita mengikuti perayaan Ekaristi ini: datang kepada Yesus; dan sesudah menyambut Tubuh dan Darah-Nya: ite missa est - pergilah, Saudara diutus!

Tuesday, January 6, 2009

Rabu Sesudah Penampakan Tuhan

Bacaan Misa:
1Yoh 4:11-18
Mzm 72:2.10-11.12-13
Mrk 6:45-52

Yesus berkuasa karena cinta!


Ketika para murid dilanda kelelahan karena angin sakal di atas danau, dan dicekam rasa takut, Yesus melihat dari daratan dan Ia berjalan di atas air mendekati mereka. Namun karena hati sudah takut, mereka tidak mengenali Dia lagi, serta mengira Dia hantu. Karena rasa takut, cemas, tak berdaya, sedih, dan sebagainya membuat hati kerap tertutup. Orang yang demikian sibuk dengan urusan sendiri, dan tidak bisa lagi mengenali Tuhan yang berjalan mendekati untuk menolong. Kata-kata Yesus: "Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!" begitu menyejukkan hati. Bahkan alam yang mengamuk pun menjadi tenang. Ajakan Yesus untuk tenang, untuk tidak takut juga ditujukan untuk semua yang menghadapi hidup di dunia yang begitu bergolak dan mencemaskan. Biarkanlah Yesus yang menenangkan hati dan pikiranmu, biarkanlah Dia yang yang menguasai seluruh hidupmu. "Akulah ini. Jangan takut!" kata Yesus kepadamu. Maka dia akan menguasai seluruh hidupmu dan hari-harimu dengan cinta. Dengan demikian, cinta kasih Allah akan sempurna dalam dirimu (Bacaan I).

Selasa Sesudah Penampakan Tuhan

Bacaan Misa:
1Yoh 4:7-10
Mzm 72:2.3-4ab.7-8
Mrk 6:34-44


Tinggallah dalam kasih Allah!


Para murid yang datang kepad Yesus dan meminta petunjuk, malahan mendapat tugas dari Yesus. Merekalah yang harus memberi makan kepada orang banyak! Kalau segalanya serba ada, entah itu waktu , sarana , bahan maka tidak ada persoalan. Tetapi mereka tidak mempunyai itu semua (karena hari sudah mulai malam - jauh dari penduduk - tidak cukup makanan)! Kata-kata Yesus seolah-olah tidak realistis, mengada-ada. Meskipun Yesus menyuruh mereka memberi makan, tetapi toh akhirnya Yesus sendirilah yang mengerjakannya. Para murid hanyalah menjadi perantara: datang kepada Yesus, mencari dan mengumpulkan roti dan ikan yang ada, membagi-bagikannya kepada orang lain, dan mengumpulkannya kembali. Kesediaan para rasul untuk mengerjakan itu semua merupakan wujud dari kasih, sebab mereka - bersama Yesus - tergerak hati oleh belas kasih kepada orang banyak. Yesus - melalui Rasul Yohanes (Bacaan I) - mengajak kita menjadi sarana kasih, karena Allah adalah cinta kasih.

Tinggallah dalam kasih Allah!

Senin Sesudah Penampakan Tuhan

Bacaan Misa:
1Yoh 3:22-4:6
Mzm 72:2.7-8.10-11.12-13
Mat 4:12-17.23-25

Kalian berasal dari Allah!

Kata-kata yang berani dan tegas. Justru karena berasal dari Allah, apa saja yang kita (kami, kalian) minta dari Allah, kita peroleh dari Dia. Inilah yang ditunjukkan oleh Yesus di dalam karya dan pelayanan-Nya: dengan kuat dan kuasa Allah, Ia memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan setiap orang yang datang kepada-Nya. Orang-orang menjadi percaya, dan juga mendapatkan kesembuhan dari segala penyakit mereka, dan berbondong-bondong mengikuti Dia.

Kita semua juga diajak untuk menjadi seperti Yesus: memberitakan Injil Kerajaan Allah dan melayani orang lain. Dan jangan takut! Karena kita berasal dari Allah (Bacaan I), dan Allah memberikan kita kekuatan untuk itu. Itulah sebabnya kita datang kepada Ekaristi Mahakudus untuk menimba kekuatan dan kuasa Allah.