Syalom!

Blog ini berupaya menyajikan jurnal studi Filsafat dan Teologi
para mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana - Malang.
Tulisan-tulisan yang dimuat di sini adalah pendapat penulis sendiri, bukan cerminan pendapat pengelola blog. Tulisan-tulisan ini adalah hasil perenungan dan kerja keras para mahasiswa, dan tidak mengandaikan isinya adalah ajaran resmi Gereja Katolik.

Friday, May 14, 2010

Menghantar Orang ke Peristirahatan Terakhir

Pengantar

Memperlakukan seseorang dengan hormat dan baik, terutama kepada orang tua dan nenek moyang yang telah berjasa, merupakan suatu keutamaan manusia yang berlaku universal. Manusia, dari bangsa mana pun, selalu mempunyai ajaran menghormati orang tua. Melalui Kitab Amsal, Allah memberi nasihat kepada bangsa Israel untuk memperhatikan ajaran mereka dan menghormati orang tua (bdk. Ams 1:8; 6:20; 23:22.25). Penghormatan kepada orang tua merupakan suatu kewajaran bagi manusia dari segala jaman. Dalam banyak kebudayaan juga ditemukan penghormatan kepada orang tua bukan hanya dijalankan sewaktu orang tua masih hidup di dunia, melainkan juga untuk orang tua yang sudah meninggal.

Bagi masyarakat Tionghua, penghormatan kepada orang tua, baik kepada yang masih hidup maupun kepada yang sudah meninggal sudah berusia seumur kebudayaannya itu sendiri. Ajaran-ajaran tertulis tentang penghormatan ini ditemukan dalam banyak kitab klasik, terutama dalam ajaran-ajaran Konfusius. Bagi Konfusius, inti penghormatan ini diungkapkan dengan sikap bakti kepada orang tua.


Masuk ke Dunia Lain

Relasi antar manusia dalam tradisi Tionghua tidak akan hilang meskipun orang kematian telah memisahkan orang dari kehidupan di dunia ini. Karena itu tidak heran kalau dalam setiap keluarga penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama. Orang yang tidak lagi menghormati leluhur yang telah meninggal dianggap sebagai seorang anak durhaka, sebab mereka melupakan asal usul dan jasa dari para pendahulunya, bahkan melupakan akar kehidupannya sendiri.

Penghormatan kepada para leluhur bukanlah suatu sikap menyembah. Hal inilah yang kerap kali disalahmengerti oleh sebagian besar orang, bahkan oleh orang Tionghua sendiri. Konfusius, peletak dasar ajaran etika bangsa Tionghua, tidak mengajarkan penyembahan kepada leluhur, seakan-akan mereka itu setingkat dewa. Persembahan itu hanyalah sarana untuk menyatakan hormat dan penghargaan kepada leluhur/tokoh-tokoh yang berjasa dalam hidup.

Pernyataaan Konfusius bahwa “orang harus menghormati roh-roh, tetapi juga menjaga jarak dari mereka” (Lun Yu IV:20), dan dia “mempersembahkan (kepada leluhurnya) seakan-akan mereka hadir, dan memberikan persembahan kepada roh-roh seakan-akan mereka hadir” (Lun Yu III: 12), serta “bila engkau masih belum dapat menunaikan tugasmu terhadap manusia, bagaimana engkau dapat melaksanakan tugasmu terhadap roh-roh” (Lun Yu XI, 11) sering ditafsirkan sebagai ajaran untuk mempersembahkan korban atau persembahan kepada roh-roh halus atau arwah leluhur. Sesungguhnya, apa yang diajarkan oleh Konfusius adalah bahwa manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghormati baik manusia maupun roh/arwah. Persembahan merupakan sarana dan perwujudan sikap untuk tidak melupakan/melalaikan mereka.

Masyarakat Tionghua membagi dunia dalam dualisme yin-yang 阴阳. Kehidupan di dunia ini disebut dunia yang , dan kehidupan sesudah dunia ini disebut yin . Maka bila orang meninggalkan dunia ini, dia berpindah ke dimensi lain dari kehidupan. Mereka tidak mati dalam pengertian binasa, tidak ada lagi, dan tidak mempunyai hubungan dengan dunia. Hubungan antara yang hidup dan yang mati, antara dunia sini dan dunia sana, inilah yang harus dijaga keseimbangannya. Bila keseimbangan itu terganggu, roh-roh akan marah. Keseimbangan ini dijaga bukan dengan persembahan, melainkan dengan perilaku hidup moral yang baik dan benar (bdk. Yijing I: 12; bdk. Fung Yu-Lan, A History of Chinese Philosophy, Princeton University Press, New Jersey, 1973, hlm. 23-24). Sementara persembahan dan korban hanyalah sarana untuk menyatakan hubungan yang dekat ini.


Menghormati Arwah

Hubungan antara manusia dengan arwah orang tua yang sudah meninggal dilestarikan dengan pelbagai upacara. Untuk menghormati orang yang telah meninggal, upacara ini dirayakan dalam dua perayaan besar.

Qingming 清明/Chengbeng

Meskipun dasar ajaran penghormatan kepada leluhur berasal dari Konfusius, praktek penghormatan ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Buddha dan Dao (Tao), terutama dalam upacara pemakaman dan persembahan. Tetapi inti dari penghormatan, yakni bakti anak kepada orang tua, tetap tidak berubah

Pada pertengahan musim semi (biasanya dirayakan pada tanggal 4 April), orang-orang pergi berziarah ke kuburan untuk membersihkan kuburan dan mempersembahkan kurban dalam bentuk makanan maupun pembakaran kertas sembahyang. Inilah yang disebut dengan hari Qingming/Chengbeng. Biasanya qingming dilihat sebagai hari di mana keluarga berkumpul bersama-sama untuk menunjukkan bakti kepada orang tua.

Perayaan Qingming ini diperkirakan berasal dari Dinasti Han, dan menjadi perayaan pada jaman Dinasti Tang. Ada dua kisah utama yang muncul dalam perkembangan perayaan ini, yaitu tentang Jie Zitui, yang dihubungkan dengan Perayaan Makanan Dingin, dan kisah tentang Zu Yuanzhang. Melihat dua kisah ini, tidak ditemukan sedikitpun unsur tahyul atau animistik dalam sembahyang terhadap orang yang meninggal, melainkan lebih menampilkan kisah kesetiaan, kepahlawanan, dan bakti kepada orang tua. Namun dalam prakteknya perayaan qingming selalu disertai dengan upacara yang bertradisi animistik, seperti dengan sembahyang makanan di depan kubur dan membakar kertas-kertas sembahyang.

Pada hari ini orang Tionghua mengunjungi makam, columbarium maupun klenteng di mana abu atau papan nama orang tua disemayamkan. Bagi mereka yang mengunjungi kuburan orang tua, ini juga merupakan saat di mana seluruh keluarga berkumpul dan membersihkan kuburan orang tua sambil menghaturkan persembahan.

Sebagai praktek yang menekankan bakti pada orang tua, perayaan qingming sebenarnya mirip dengan tradisi Gereja yang merayakan Peringatan Arwah tanggal 2 November. Yang membedakannya hanyalah soal tradisi atau perayaannya. Keduanya menampakkan hubungan yang tak terputus antara orang yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup di dunia.

Iman kristiani mengajarkan bahwa hubungan antara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup ini terungkap dalam persekutuan para kudus. Artinya, bahwa mereka yang sudah meninggal dapat kita doakan dalam kasih Allah, terlebih bagi arwah di api penyucian. Di sisi lain, kita pun dapat memohonkan doa-doa dari mereka yang sudah berbahagia di surga untuk kita yang di dunia ini (Peringatan Semua Orang Kudus 1 November).

Tradisi Tionghua yang menekankan kepada bakti kepada orang tua dalam perayaan qingming ini bukan sesuatu yang membahayakan iman kita. Mengunjungi dan membersihkan kuburan sebagai ungkapan cinta anak kepada orang tua kiranya tidak perlu ditinggalkan hanya karena sebagian besar orang menyertainya dengan praktek non kristiani. Asalkan para pengikut Kristus mengunjungi makam dan membersihkannya tetap hidup dalam iman bahwa Kristus sudah membebaskan semua manusia dari dosa dan memberikan hidup abadi melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Persembahan apa pun (makanan, kertas sembahyang, dll) yang ditujukan tidak mempunyai arti apapun, karena persembahan itu tidak bisa menolong mereka, tidak mempunyai kuasa penyelamatan. Hanya Kristus penolong sejati. Justru orang Katolik jatuh ke dalam "penyembahan berhala" bila menganggap persembahan- persembahan itu bisa menyelamatkan dan menolong arwah. Kita tidak bisa menyelamatkan arwah-arwah yang menderita, tetapi kita bisa berdoa memohonkan rahmat dan pengampunan Tuhan bagi arwah-arwah di api penyucian agar mereka dapat segera bebas dari siksa sementara dan segera bersatu dengan Allah dalam kebahagian abadi di surga.

Zhong Yuan Jie中元节/Sembahyang Rebutan

Upacara sembahyang ini biasanya jatuh di bulan Agustus, diyakini bahwa pada bulan ini roh-roh kelaparan dilepaskan dari neraka untuk mencari makan di dunia. Cerita ini berasal dari mitos seorang rahib Buddha bernama Mu Lian yang sangat mengasihi ibunya. Setelah ibunya meninggal, Mu Lian bermimpi ibunya datang dan berkata bahwa dia lapar. Setelah terbangun, Mu Lian sangat sedih, dan mempersembahkan makanan kepada ibunya. Melalui pelbagai macam cara dan setelah mendapat petunjuk dari beberapa nasihat Buddha, dia akhirnya dapat bertemu dengan ibunya dan memberi makan.

Dasar dari upacara Zhong Yuan (中元) ini adalah kepercayaan bahwa arwah masih membutuhkan makanan dari dunia, bahkan menjadi arwah kelaparan yang bisa mencari makan di dunia orang hidup. Ajaran ini sangat tidak sesuai dengan iman kristiani. Ajaran lain mengenai pintu neraka yang terbuka, arwah-arwah kelaparan, dan apalagi mengenai memberi makan kepada arwah tidak bisa kita terima. Umat beriman seharusnya berpegang bahwa keselamatan datang dari Kristus, bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari Kristus (Rom 8:35-39).

Upacara Pemakaman

Kremasi bukanlah hal yang lazim dalam masyarakat Tionghua, karena dibawa oleh agama Buddha dari India. Pemakaman merupakan pilihan terbaik, yang dilakukan dengan sangat serius, karena beberapa alasan ini.

1. Pemakaman dan upacara kabung merupakan wujud kelihatan dari bakti kepada orang tua.

2. Pemakaman yang tidak tepat akan membawa nasib buruk bagi keturunan yang masih hidup. Karena itu letak makam dan kapan waktu pemakaman menjadi pertimbangan bagi keluarga (memperhatikan fengshui 风水).

3. Upacara kabung dan pemakaman ditentukan oleh usia. Orang yang lebih tua tidak boleh memberikan penghormatan kepada orang yang lebih muda. Karena itu bila yang meninggal itu seorang muda yang belum menikah, jenazahnya tidak boleh dibawa pulang, dan orang tua tidak berdoa di depan jenazah anaknya.

Dari ketiga alasan ini, hanya alasan pertama yang dapat diterima umat Kristiani. Sementara alasan ke dua dan ke tiga merupakan praktek kepercayaan tahyul.

Sungguh disayangkan bahwa masih banyak orang Katolik mempraktekkan cara-cara tahyul tersebut. Bahkan buku Ibadat Melepas Jenazah dan Memperingati Arwah yang diterbitkan sebagai buku upacara resmi Gereja oleh penerbit Nusa Indah (mendapatkan imprimatur dan nihil obstat) berisi banyak ajaran yang keliru dan bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Buku ibadat itu malahan menganjurkan umat membakar kertas sembahyang sebagai uang-uangan untuk memberikan sangu kepada arwah orang meninggal dan mempersembahkan semangka (hlm. 35) serta memecahkannya (hlm. 66). Praktek tersebut adalah praktek tahyul yang tidak bisa diterima iman Kristiani. Kremasi, yang sesungguhnya sebelum masuknya agama Buddha dianggap tindakan kejam terhadap jenazah orang tua, malah dikatakan memiliki nilai kesalehan, yakni bakti kepada orang tua (hlm. 54) .

Kepercayaan akan mimpi kedatangan arwah leluhur dapat menjerumuskan umat beriman kepada kepercayaan dan praktek tahyul. Apalagi bila karena mimpi iman orang menjadi terganggu sehingga mulai tergoda memberikan persembahan-persembahan kepada arwah untuk kesejahteraan arwah di dunia lain.

Pertimbangan Pastoral

Mendoakan arwah orang yang meninggal merupakan sikap yang sejalan dengan iman kristiani. Berhadapan dengan orang yang meninggal, Gereja mempercayakan seluruh pengharapannya kepada Yesus Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Dengan darah-Nya yang kudus, kita telah ditebus dari kematian dan memberikan kehidupan abadi. Maka sebelum orang meninggal, Gereja membekali umatnya dengan viaticum, yaitu bekal berupa Tubuh Kristus dalam perjalanan dia menuju kepada Kristus. Setelah meninggal, arwah tidak membutuhkan makanan lain lagi, kecuali doa dan cinta kita, yang dipanjatkan kepada Allah Bapa memohon pengampunan dan belas kasih Allah.

Pelbagai praktek pemakaman, seperti melihat hari, menghitung jam, membakar kertas sembahyang dan memecahkan semangka, dan berbalik badan saat peti dimasukkan ke dalam kuburan, sangat tidak sejalan dengan iman Gereja. Karena itu hendaklah para petugas pastoral mengajak umat untuk memfokuskan perhatiannya kepada Kristus sang Penebus, bukan pada ketakutan yang tak beralasan.

Kremasi, yang saat ini cukup lazim di Indonesia, merupakan alternatif lain karena pertimbangan praktis tidak lagi ditolak oleh Gereja. Dalam hal ini abu jenazah dapat dikuburkan di tanah, atau di columbarium dengan upacara yang layak seperti pemakaman biasa dengan disertai doa-doa yang tercantum dalam buku-buku liturgis. Juga apabila dilarung di laut, dapat disertai dengan doa-doa lain yang bisa diambil dari buku-buku liturgis dengan sedikit modifikasi yang disesuaikan dengan situasi.

Orang Tionghua jaman dahulu tidak menyimpan abu jenazah di rumah, melainkan di rumah abu. Dalam perkembangan jaman, klenteng dan vihara juga menyediakan tempat penyimpanan abu ini, agar keluarga dapat memberikan penghormatan yang layak kepada arwah sanak keluarga yang sudah meninggal. Alangkah baiknya bila di columbarium yang dikelola oleh Gereja Katolik disediakan tempat untuk berdoa khusus bagi keluarga yang datang pada hari peringatan arwah atau hari qingming, atau bahkan kapel untuk Perayaan Misa dengan intensi bagi arwah orang yang meninggal.

PENUTUP

Penghormatan kepada arwah leluhur merupakan cerminan sikap bakti orang Tionghua terhadap orang tua. Sikap ini kemudian berlanjut kepada praktek-praktek yang sangat dipengaruhi oleh pandangan animistik dan tahyul masyarakat, dan berubah kepada sikap menyembah dan berdoa seperti kepada roh-roh dan berhala.

Umat Kristiani juga tidak luput dari pengaruh seperti ini, apalagi bila mendapat mimpi. Cara berpikir seperti ini rupanya masih terikat kepada kebiasaan lama yang tidak Kristiani, masih terbelenggu, diperbudak oleh kepercayaan yang sia-sia. Padahal umat kristiani sudah dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Roma 8:21).

Selain itu, Rasul Paulus mengajar kita untuk melihat Yesus Kristus sebagai pusat seluruh hidup dan pengenalan kita. Apakah kita mampu berkata seperti Paulus, Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Filipi 3:8).


KEPUSTAKAAN

1. Rm. Samuel Pangestu, Pr. & Rm. M. Kristiyanto, Pr., Ibadat Melepas Jenazah dan Memperingati Arwah, Nusa Indah, Ende, 2003.

2. Daniel Tong, A Biblical Approach to Chinese Traditions and Beliefs, Genesis Books, Singapore, 2004.

3. Goh Pei Ki & Fu Chunjiang, Origins of Chinese Festivals, Asiapac, Singapore, 2004.

4. Fung Yu-Lan, A History of Chinese Philosophy, Vol. I, Princeton University Press, New Jersey, 1973.

No comments:

Post a Comment